Antara Mimpi dan Kenyataan

Posted: November 22, 2013 in This Blog!!, Uncategorized
Tag:, , ,

football kid

Alarm ponselku berdering kencang. Nada dering khas ponsel itu pun seraya membangunkanku dari lelapnya tidur. Aku begitu lelah, sehingga membuatku tertidur sangat lelap. Maklum saja, Aku baru saja tiba di kota ini malam tadi. Jarak Bogor ke Tasikmalaya memang sangatlah jauh. Setidaknya memakan waktu 7 jam untuk menempuhnya. Ya, Ayahku baru saja dipindahkan ke sini untuk kepentingan dinas. Maklum, Ayahku adalah insinyur pertanian, jadi Kami sering berpindah-pindah.

Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke sekolah baruku. Aku akan duduk di kelas V-A.  Mungkin akan sedikit berbeda dengan suasana kota yang lebih modern seperti di Bogor. Namun, Aku percaya diri akan tetap bisa prestasi disini baik di bidang akademi maupun nonakademi. Mungkin Aku adalah orang yang beruntung karena telah dikarunai beberapa bakat. Bukannya sombong, Aku pernah memenangkan kompetisi matematika se-Jawa Barat dan menjuarai turnamen sepakbola junior se-jabodetabek. Kehidupan baruku pun dimulai.

Kaki-kakiku melangkahkan diri masuk ke ruangan kelas baruku di SD Tanjungjaya ditemani oleh Pak Endang, wali kelas baruku.

“Mohon perhatiannya anak anak. Kita kedapatan teman baru yang baru saja pindah dari kota,” ujar Pak Endang.

“Hai teman-teman, perkenalkan nama saya Dzaky. Saya pindahan dari Bogor. Salam Kenal!” ujarku kepada teman-teman baruku di depan kelas.

Teman-teman baruku itu nampaknya sangat antusias menyambut kehadiran ku. Aku pun duduk disebelah Syarif yang memang disebelah bangkunya masih kosong. Posisi kami ada di baris paling belakang. Syarif orangnya sangat ramah dan juga pintar, terlihat dari caranya bercakap. Sepertinya dia akan menjadi saingan beratku di kelas ini.

“Eh Dzaky, kamu tau gak, siapa yang paling pinter di kelas ini?” ujar Syarif kepadaku.

“Hmm.. Kamu kan! Hahaha..”

“Kamu salah, aku cuma mendapat ranking 2! Lihat cewek yang duduk dibaris ke-2 yang sedang tertawa itu! Dia Nirmala, yang selalu mendapatkan ranking 1 di kelas ini!” ujar Syarif.

Aku perhatikan Nirmala dengan seksama.

“Ah, aku tidak mendapatkan wajah pintar dari dirinya. Hmmm.. namun, dia sangat cantik hehehe…” ujarku dalam hati yang tak mungkin langsung kuucapkan kepada Syarif.

Aku terperanga melihatnya, seperti orang kampung yang baru mengenali adanya komputer. Cantik sekali ujarku dalam hati. Syarif tertawa melihat sikapku.

“Eh, ngeliatin apaan? Sampe melotot gitu ngeliatinnya, kayak orang kampung yang baru tau komputer! Hahaha” ejek Syarif.

Ah, tidak kreatif sekali ejekan syarif, persis pikiranku sebelumnya.

“Ah nggak, baru kali ini ngeliat cewek cantik selain Ibuku hahaha…,” balasku.

Pelajaran pun dimulai. Kali ini Pak Endang akan mengajari kami matematika. Materi kali ini adalah tentang FPB dan KPK. Ah mudah pikirku. Anak-anak dikelas memperhatikan seksama penjelasan dari guru. Berbeda halnya dengan ku, tatapan mataku hanya tertuju kepada Nirmala. Cantik sekali dia. Tak lama setelah itu, Pak Endang hendak menguji anak-anak.

“Baiklah, Bapak akan menguji pemahaman kalian tentang FPB dan KPK. Bapak akan memberikan pertanyaan, yang bisa menjawab dengan cepat akan saya langsung berikan 100 untuk nilai ulangan harian pada materi ini..”ujar Pak Endang.

“Ini kesempatanku untuk menunjukan siapa diriku sebenarnya pada Nirmala. Mungkin saja dia akan terpesona hehehe..” pikirku.

“Saya beri waktu 1 menit, baik.. berapakah FPB dari 2013 dengan 165 ?”

Anak-anak dikelas terlihat menghitung sambil mencoret-coret dengan terburu-buru. Ah jawabannya 33. Entahlah, seperti tak sengaja menemukan emas di tumpukan pasir, jawaban itu terpikirkan begitu saja olehku.

“33 pak guru!”ujarku.

Seluruh mata tertuju ke arah belakang melihatku. Seperti artis saja aku ini pikirku.

“Ah siapa itu? Oh kamu Dzaky, tepat sekali jawabanmu itu. Cepat sekali kau berhitung. Coba tunjukkan di depan kepada teman-teman bagaimana cara menghitungnya.” ujar Pak Endang.

Dengan senang hati Aku maju ke depan kelas. Senang sekali rasanya, ulanganku langsung mendapatkan nilai 100. Anak-anak memperhatikan penjelasanku di papan tulis.

Istirahat nanti, aku memutuskan untuk berkenalan dengan Nirmala. Hatiku berdebar-debar, persis saat aku akan bertanding di pertandingan final turnamen sepakbola se-jabodetabek itu.

“Eh kata Syarif kamu pinter banget ya, hehe… Oh iya, perkenalkan, namaku Dzaky. Nama kamu Nirmala kan?” ujarku sambil menahan rasa gugup.

“Hahaha, bisa aja kamu.. Iya, Aku Nirmala, salam kenal.. Kayaknya pinteran kamu deh hehe, tapi aku gamau kalah begitu aja lho!” ujarnya dengan senyum manisnya.

Agar tak terlihat mencurigakan, aku juga berkenalan dengan teman sebangkunya, Ratna. Lalu, Aku dan Nirmala pun berteman baik. Kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah baruku, kami pun sering pulang bersama, ya tidak berduaan, bersama teman yang lain juga. Akan tetapi, tetap saja terasa istimewa.

Inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Pada suatu hari pada saat jam pelajaran olahraga, Pak Dedi, guru olahraga kami, memberikan materi futsal, seperti sepakbola namun hanya membutuhkan 5 pemain untuk satu tim, baik untuk anak laki-laki maupun perempuan. Ini kesempatan emasku untuk menunjukkan skill mengolah bolaku kepada Nirmala yang belum pernah melihatku bermain bola.

Seluruh anak laki-laki dibagi menjadi 4 tim. Timku selalu menang melawan tim lain akibat gol-gol indah yang kuciptakan bersama Kurnia, yang juga jago bermain bola. Aku berharap Nirmala terpesona dengan aksiku hehe.

“Kamu jago juga ya main bola, aku kira kamu cuma kutu buku hehehe..” puji Nirmala sambil mengejek.

“Enak aja kutu buku, emangnya Aku ini Syarif, hehe.. ” balasku.

Syarif mendengarnya dan ekspresinya menunjukan rasa kesal. Kami pun tertawa bersama melihatnya.

Tak terasa, sudah 8 bulan Aku berada di kota ini. Hubungan pertemananku dengan Nirmala semakin dekat. Ya, tentu saja aku juga berteman dengan teman yang lain. Namun tidak se-istimewa ini. Pada suatu hari, kami bermain ke taman kota berdua. Hanya sekedar melihat pemandangan sekaligus melepas tawa bersama. Sungguh indah rasanya. Kami saling bertukar cerita, baik cerita lucu, gosip , bahkan cerita horor!

Sesampainya dirumah, Aku merasakan pemandangan yang tak biasa. Ibu dan Mbok Eni terlihat sedang menyiapkan seluruh perabotan dan pakaian ke dalam peti. Adikku hanya berlagak membantu, padahal ia hanya menonton saja. Aku berpikir ini seperti hendak pindah rumah saja.

“Ibu, apa yang sedang ibu lakukan?” tanyaku dengan heran.

“Ohiya kamu belum tau ya.. Alhamdulillah nak, Ayah kamu jabatannya dinaikkan, jadi kita akan pindah ke Jakarta!” ujar Ibu dengan senangnya.

Sungguh, aku sangat terkejut mendengarnya. Ya, keluagaku sangat senang dengan kejadian ini. Berbeda denganku, jika Aku pindah ke Jakarta, itu artinya aku tidak akan bertemu lagi dengan Nirmala. Aku pun sangat sedih. Entah apa yang akan aku ucapkan kepada Nirmala nanti.

Keesokkan harinya, Aku berpamitan kepada seluruh teman-temanku di sekolah. Anak-anak di kelas ku memberikan kenang-kenangan berupa bingkai foto berisi foto kami sekelas. Aku pun terharu karena merasa sangat dianggap keberadaannya. Lalu, Aku memperhatikan, ekspresi Nirmala sangat terkejut dan terlihat sedang menahan rasa sedih. Tak tega aku melihat wajah cantiknya itu sesedih itu.

Aku akan berangkat ke Jakarta pada malam hari. Sebelum berangkat, Nirmala datang dan menghampiriku.

“Dzaky, kecil kemungkinan kita akan bertemu lagi.. Tapi apapun yang terjadi, janji ya kamu gak akan ngelupain aku!” ujar Nirmala.

“Iya, janji. Kamu juga ya!”

Akhirnya, berangkat jugalah aku ke Jakarta. Sepanjang jalan, aku tak bisa berhenti memikirkan Nirmala. Ah, apakah ini yang Kak Agung , kakak sepupuku, katakan sebagai cinta monyet? Ada ada saja istilah yang Kak Agung buat. Memangnya aku ini monyet apa?

Di Jakarta, Aku bertemu banyak teman baru. Tentu aku tidak menemukan anak perempuan seperti Nirmala. Akan tetapi, Aku harus tetap rajin belajar agar dapat kuliah di Institut Teknologi Bandung, PTN yang aku damba-dambakan.

Dari SD hingga SMA, aku selalu mendapatkan peringkat 1 di kelas. Aku juga memenangkan berbagai kompetisi sains dan sepakbola. Itu semua dapat kuraih hasil dari kerja keras ku. Pada Akhirnya, diterimalah aku di ITB.

“Alhamdulillah ya Allah! Anakku ini memang pintar. Bisa dapet undangan buat masuk ITB!” ucap Ayahku saat melihat hasil pengumuman penerimaan mahasiswa melalui jalur undangan.

Aku pun datang ke ITB untuk mendaftar ulang. Ramai sekali suasana kampus di ITB. Antrian untuk mendaftar ulang sangat panjang, layaknya antrian pembagian daging kurban. Untunglah aku membawa Nintendo kesayanganku, setidaknya dapat mengurangi rasa bosanku. Satu orang lagi tibalah giliranku untuk mendaftar ulang. Karena bosan bermain Nintendo, Aku menguping pembicaraan gadis yang sedang mendaftar ulang dengan panitia. Ya, kursi tungguku berada dekat dengan meja panitia.

“Dengan Nirmala Kemalasari ya ini? “ ujar panitia kepada gadis itu.

“Apa? Nirmala Kemalasari? Apakah dia Nirmala teman SD-ku pada saat di Tasikmalaya? Wah, aku harus berbicara dengannya untuk memastikannya!” ujarku dalam hati.

Setelah kulihat ia selesai mendaftar ulang, dengan berani aku menghampirinya.

“Permisi, Apa benar kamu Nirmala? Alumni SD Tanjungjaya?” tanyaku.

“Benar!! Tunggu dulu…. Kamu Dzaky kan!! Iya kan??” ujarnya.

“Wah kamu masih mengenaliku, syukurlah, mau nunggu aku ga? Abis itu kita ngobrol ngobrol gitu deh..” tanyaku.

“Boleh, boleh..” ujar Nirmala dengan senyuman khasnya.

Aku tidak percaya dapat bertemunya di ITB! Sungguh ajaib, kejadiannya benar-benar seperti yang aku inginkan. Wajahnya tidak banyak berubah. Hanya saja, Dia semakin cantik. Benar-benar beruntung Aku bisa mengenal orang seperti dia. Setelah selesai mendaftar ulang, kami pun jalan bersama. Kami berjalan disepanjang jalan dago sambil membicarakan banyak hal. Sangat indah, persis seperti kala itu.

Namun, Aku merasakan keanehan. Orang-orang disekitarku berjalan menggunakan tangan. Jam raksasa di taman kota itu pun berputar kencang seperti sedang menghipnotis diriku. Anjing-anjing berjalan hanya menggunakan 2 kaki.

“Eh Nirmala, kamu ngerasa aneh ga sih?” tanyaku kepadanya.

“Aneh gimana? Biasa saja ah..”balas nirmala sambil menggerakkan telapak tangannya menunjukkan tanda tidak terjadi apa-apa.

Aku memperhatikan telapak tangannya, ternyata jarinya ada 6! Aku pun berteriak kencang karena terkejut. Tiba-tiba, bagaikan ulangan dadakan yang diberikan tanpa pemberitahuan, terjadi gempa yang sangat dahsyat. Seketika saja gedung-gedung di sepanjang jalan dago roboh dan menimpa kami. Suasana seketika gelap, Aku tak dapat melihat dan merasakan apa-apa.

….

“Kak, bangun kak, udah siang lho, nanti lupa solat subuh lagi!”

Suara itulah yang terdengar saat Aku sadar. Ternyata itu suara Adik kecilku. Aku melihat sosok adikku yang seharusnya sudah berumur 13 tahun , namun kelihatan seperti anak usia 4 tahun! Tiba-tiba aku menyadari suatu hal.

“Oh iya!! Aku kan semalem nyoba lucid dream ya.  Gila panjang banget lucid dreamnya..” ujarku.

Aku baru ingat ternyata tadi malam aku mencoba teknik lucid dream yang diajarkan guru fisikaku yang memang tergila-gila dengan hal itu. Lucid Dream adalah mimpi yang benar-benar terlihat seperti nyata, benar-benar jelas dan dapat dikendalikan! Lucid Dream akan berakhir jika kita merasakan keanehan dalam mimpi kita atau seseorang membangunkan kita. Sepertinya dua-duanyalah yang telah membangunkanku.

“Ah sial, padahal udah berhasil tuh lucid dream yang di ajarin sama Pak Hasan. Coba lebih lama lagi, mungkin aku sama anak yang namanya Nirmala itu sudah….”

Komentar
  1. Martha Andival mengatakan:

    enak dibaca dan seru.. nyata atau fiktifkah ini ceirta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s